Di zaman serba cepat, sentuhan teknologi mesti dimanfaatkan demi efisiensi dan efektivitas pembangunan daerah. Tidak hanya mencegah kebocoran kas keuangan, tetapi juga wujud kemudahan layanan publik.

Akan tetapi, sentuhan teknologi ini banyak disalahgunakan pihak yang tidak bertanggungjawab, terutama dalam penyampaian informasi.

Hal tersebut disampaikan Gun Gun Siswadi, Staf Ahli Menkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa pada paparannya saat Bimtek Penyuluh Informasi Publik di Hotel Grand Zurry Padang, Kamis (28/2).

"Hoax atau ‘fake news’ bukan sesuatu yang baru, dan sudah banyak beredar sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439. Sebelum zaman internet, hoax bahkan lebih berbahaya dari sekarang karena sulit untuk diverifikasi," ujar Gun Gun.

Konsekuensi membuat dan menyebarkan berita menyesatkan dapat membuat masyarakat menjadi curiga dan bahkan membenci kelompok tertentu, menyusahkan atau bahkan menyakiti secara fisik orang yang tidak bersalah serta memberikan informasi yang salah kepada pembuat kebijaksanaan.

Tetapi bukan berarti hoaks ini tidak bisa ditanggulangi. Ada kiat-kiat menghadapi hoax, rutinlah membaca berita dari media yang well-established dan dihormati. Orang yang paling rentan hoax adalah orang yang jarang mengkonsumsi berita.

"Kalau suatu berita kedengarannya tidak mungkin, bacalah dengan lebih teliti karena seringkali itu karena memang itu tidak mungkin. Jangan share artikel/foto/pesan berantai tanpa membaca sepenuhnya dan yakin akan kebenarannya," jelasnya.

Selain itu imbaunya, perlu warga untuk melek media digital khususnya generasi muda, sehingga mampu berpikir kritis terhadap semua content yang ada di dalam media digital. Juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk dapat memanfaatkan kebebasan berinformasi secara baik dan menyadari pentingnya beretika di media jejaring sosial.

"Warga yang melek media digital ini diharapkan akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan sosial dan ekonomi mereka," tuturnya.